1.   
Event
(pendekatan reaktif). Pendekatan ini terletak pada tingkat paling atas yaitu
tingkatan kejadian atau event.
Jenjang inilah yang paling kasat mata, biasanya bisa ditangkap oleh panca
indera. Maksudnya adalah setiap masalah dapat diartikan langsung

Pada gunung es
“kejadian” terletak di atas permukaan laut, sehingga semua orang akan bisa
melihatnya. Dan manajer cenderung akan bereaksi terhadap kejadian atau dapat
dikatakan reaktif.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Analisis dan
manajer yang bekerja  pada level ini akan
bertindak reaktif seperti pemadam kebakaran. Jika ada kejadian kemudian akan
langsung bereaksi, mereka akan sangat sibuk memadamkan api yang sedang terjadi
di suatu tempat. Pendekatan ini adalah hal yang paling mudah, analisisnya pun paling
tak kasat mata, banyak sekali pengambil kebijakan atau pengambil keputusan
(pemerintah, manajer) yang akhirnya terjebak menggunakan pendekatan ini yang
kadang berhasil tapi seringnya tidak.

2.   
Petterns (pendekatan
antisipasif), tingkatan yang lebih mendalam yang bisa dilakukan adalah dengan
mengamati perilaku sistem. Satu faktor penting yang harus diperhatikan pada
level ini adalah waktu. Dengan kata
lain, kita akan coba melihat dinamika atau gerakan sistem dari satu waktu ke waktu
yang lain.

Kumpulan-kumpulan
kejadian bisa dilihat dalam rentetan waktu sehingga akan terlihat pola-pola
tertentu. Pada level analisis ini, kejadian tidak lagi dilihat secara
individual namun dilihat berdasarkan dari rentetan waktu ke waktu.

Pendekatan ini
sudah lumayan baik namun tidak terlalu baik. Kejadian yang terlihat berulang
tidak akan bisa dihentikan/dicegah dengan pendekatan antisipasif. Kejadian
tetap akan terulang, dan manajer harus lebih siap kapan harus mencurahkan
resource untuk working hard dan kapan manajer bisa gunakan waktu untuk
berpikir.

3.   
Struktur
Sistem ( Pendekatan Generatif ), pendekatan ini ialah pendekatan yang paling susah
karena analisis dan pengambil keputusan harus memiliki kemampuan analisis
abstrak dan visi. Untuk bisa melakukan analisis tahap ini, pengambil keputusan
yang terlatih sekalipun biasanya untuk setiap kasus perlu bantuan pendekatan
(1) dan (2) sebelum kemudian menyelam ke pendekatan (3).

Pada pendekatan
ini, analisis perlu mencoba melihat keterkaitan antara satu faktor dengan faktor
lain karena tak ada faktor yang berdiri sendiri. Faktor-faktor yang saling
mengait ini lah yang nantinya memunculkan pola/kecenderungan yang biasa
ditangkap analisis tingkat (2). System thinker biasa bekerja pada tingkat (3)
ini.

Jika seorang
analisis atau pengambil keputusan bisa menggunakan pendekatan (3) ini,
diharapkan solusi bisa di generate maksudnya adalah solusi dapat dikembangkan.

Tidak lagi hanya
reaktif, ataupun antisipasif karena seorang pengambil keputusan bisa menggenerate ide atau mengembangkan ide
untuk mengubah sistem menjadi lebih baik.

 

 

 

CONTOH KASUS

Contoh kasus ini mengenai konsep dasar “System Iceberg”

Salah satu berita yang dulu pernah booming ialah tentang penumpang KRL
(Kereta Rel Listrik). Banyak penumpang KRL yang lebih senang duduk di atas atap
kereta. Beberapa metode telah di coba oleh pihak PERUMKA (Perusahaan Umum
Kereta Api), mulai dari di teriakin pake speaker namun gagal. Di tusuk-tusuk
dengan galah gagal. Di semprot-semprot dengan air pun juga tidak efektif. Dan
pada tanggal 30 februari, seorang penumpang KRL jatuh dari atap KRL, seminggu
kemudian dua orang lagi jatuh.

Untuk kasus ini pada tingkat pertama
yaitu pendekatan reaktif. Dengan
adanya melihat kejadian tersebut para petugas langsung bertindak dengan
melakukan beberapa tindakan yaitu seperti memperketat keamanan, memasang kawat
berduri di atap KRL. Petugas menyangka setelah pemasangan mungkin tidak ada
lagi yang naik ke atap namun ternyata penumpang KRL lebih pintar. Pada hari
keempat, kawat berduri telah dicabut oleh penumpang. Di hari kemudian petugas
memasang nya lagi dan penumpang melakukan hal yang sama lagi dan begitulah
seterusnya.

Pada tingkat kedua yaitu pendekatan
antisipasif, pendekatan ini dilihat dari rentetan waktu. Jika kebetulan ada
karyawan PERUMKA yang membuat catatan kejadian accident (jatuhnya penumpang
dari atap KRL) dari waktu ke waktu maka mungkin akan terlihat penyebab accident
tersebut terjadi. Misalkan saja dari data yang ada ternyata data jumlah
kecelakaan penumpang jatuh terkait dengan hari gajian. Misalnya : ketika hari
gajian dan beberapa hari berikutnya, ternyata jumlah kecelakaan menurun, namun
ketika tanggal tua, jumlah kecelakaan naik. Dengan adanya pendekataan kedua
(melihat perilaku sistem), akhirnya PERUMKA bisa melakukan perencanaan
antisipasif untuk masa mendatang. Yaitu misalkan saat-saat tanggal tua
keamanaan lebih ditingkatkan lagi atau strategi yang lain yang lebih kreatif dan
dikaitkan dengan tanggal muda/tua.

Dan pada tingkat ketiga, pendekatan generatif. Pada pendekatan
ini maka kita menganalisis nya lebih dalam lagi. Dan untuk kasus di atas,
dengan adanya pendekatan (2) kita dapat melihat adanya hubungan antara tanggal
tua dan tingginya kecelakaan. Ternyata didapatkan bahwa hubungan antara tanggal
tua dan kecelakaan adalah hubungan tak langsung. Penyebab yang menghubungkan
keduanya adalah “uang transport yang tersisa di kantong” (misalkan)

Jika di analisis maka kasus yang sebenarnya ialah, ketika tanggal tua
kebanyakan seseorang memiliki sisa alokasi uang untuk transportasi tidak banyak
kemudian mereka memutuskan untuk naik KRL dikarenakan lebih murah meriah.
Ketika naik KRL ternyata terjadi kepadatan penumpang yang menyebabkan penumpang
berfikir untuk naik ke atas atap KRL dan disitulah terjadinya kecelakaan
tersebut dikarenakan atap KRL memang bukanlah tempat yang seharusnya mereka
tempati maka dari itu tidak adanya keamanan di atas atap tersebut.

Dan dengan melihat kasus tersebut, kita bisa mengenerate atau mengembangkan
beberapa alternatif solusi. Misalnya :

a.      
Meningkatkan
kapasitas KRL sehingga tidak terjadi nya kepadatan KRL dan menurunkan minat
penumpang untuk naik ke atap.

b.     
Menyediakan
moda transportasi alternatif (misal: monorail) sehingga penumpang bisa dipecah
ke berbagai jenis moda.

c.      
Tidak
memperbolehkan penumpang menaiki KRL jika kapasitas dirasa sudah terpenuhi.

d.     
Memperbanyak
frekwensi perjalanan atau menambah jalur rel baru

 

 

x

Hi!
I'm Cody!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out